Kamis, 10 Januari 2013
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Oleh:
Tien Afecto Galuh
Di
hutan hiduplah beberapa kelompok hewan yang bermacam-macam jenisnya, dari yang
kecil-besar, bodoh-cerdik, bahkan yang lembut sampai yang buas. Mereka memiliki
karakter dan sifat yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Jadi setiap
kelompok hewan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Ada
empat kelompok besar di hutan tersebut, antara lain kelompok monyet, burung,
semut dan kancil. Mereka hidup berdampingan dari dulu tidak ada masalah
sebelumnya, hutan tersebut damai, aman, tentram dan saling menjaga serta
menghargai.
Biasa
hidup bergelantungan di atas pohon membuat monyet (kemon) pandai memanjat pohon
dan kebanyakan dari mereka mempunyai keahlian dalam mencari makanan. Kelompok
burung (keburu) punya modal suara merdu yang bisa dijadiin kelebihan dan
penampilan juga menarik.
Semut
(kesut) memang kecil tapi jangan pernah meragukan kerukunan mereka, coba lihat
saja kalau bertemu mesti salaman
(berjabat tangan) dan kerjasamanya sangat terjaga satu sama lain. Terakhir kelompok
kancil atau kecil yang memiliki banyak akal buat menipu orang lain, mereka
sangat cerdik, so jangan berani-berani ngerjain kalau tidak mau dikerjain.
Tak
ada yang saling menghina satu sama lain, mereka menyadari kalau setiap makhluk
hidup punya kelebihan dan kelemahan. Tapi ada yang aneh dari kehidupan mereka
ini, tak ada yang bisa memecahkan misterinya. Hidup berdampingan selama ribuan
tahun tapi tak pernah berkomunikasi, mereka hanya menghargai satu sama lain
sebagai tetangga.
Suatu
hari datanglah sekelompok hewan dari hutan sebrang, mereka adalah tak pernah
disukai, karena merugikan orang lain, inginnya hidup enak tanpa kerja keras
yaitu kelompok kutu. Niat ingin mencari ada apa di balik misteri kehidupan
mereka tapi tak tahu apa yang akan dilakukan hewan kecil ini.
“Selamat
siang rajaku” sapa ketua kutu
“Siapa
kalian?” tanya raja, “Kalian bukan rakyatku.”
“Kami
bukan rakyat raja sekarang, tapi kalau Raja berkenan kami akan menjadi rakyat
baginda dengan senang hati” rayu ketua kutu
Awal
cerita mereka pindah ke hutan ini karena mereka diusir dari hutan mereka karena
telah membuat resah penghuni hutan. Alasan mereka saja agar tidak malu dan
dapat diterima di hutan ini oleh raja hutan tempat tinggal keempat kelompok
hewan yang menjadi misteri.
***
“Sepertinya
kalian tulus”, tanggap raja, “mengapa tidak?.”
“Terima
kasih Baginda raja”, ucap kutu-kutu
Setelah
diterima baik oleh raja hutan mereka para pejabat tinggi kutu mengadakan rapat
pleno untuk menentukan strategi agar bisa mengalahkan keempat kelompok besar di
hutan ini.
Strategi
pertama, kaum kutu memaik-baikin keempat kelompok hewan itu agar bisa masuk di
dalamnya. Mereka sedikit demi sedikit mencari-cari kelemahan dari keempat
kelompok itu. Seluk beluk setiap kelompok, mereka ketahui dengan cepat tanpa
menimbulkan rasa curiga. Kelebihan dari setiap kelompok benar-benar dipelajari
sampai mereka bisa menirukannya.
***
Akhirnya,
kelompok kutu-kutu atau sekutu berhasil menarik simpati raja dan yang lain
sehingga bisa menjadi kelompok besar, sejajar dengan empat kelompok besar.
“Senang
sekali kami yang bukan siapa-siapa bisa menjadi penting di sini”, sambutan
ketua kutu.
“hip
hip . . .hore”, sorak sekutu
Setelah
mereka mendapatkan penghargaan dari raja, sifat busuk mereka lama-kelamaan
mulai muncul. Ilmu-ilmu yang didapat dari keempat kelompok besar tersebut
dimanfaatkan mereka untuk menghancurkan empat kelompok besar di hutan.
Raja
yang dulunya selalu mengandalkan empat kelompok hewan dengan kelebihannya
masing-masing sekarang mulai beralih pada sekutu.
Keadaan
ini pertama kali disadari Kecil, mulai saat itu mereka sangat membenci sekutu.
Karena bagaimanapun Kecil tetap cerdas dan sulit ditandingi kecerdasanya,
karena kecerdasan tumbuh dari dalam diri. Bisa dipelajari tapi sulit.
Keburu
tidak lama kemudian juga sadar kalau sekutu telah meniru keunikan mereka, dan
mencuri semua perhatian rakyat. Tapi beda dengan Kemon dan Kesut mereka tidak
menyadari itu semua karena kelebihan mereka memang sulit ditiru sekutu.
Sekutu
punya banyak mata-mata dan segera tahu kalau Kecil dan Keburu telah menyadari
kebusukan sekutu. Tapi sekutu tak bisa apa-apa, mereka hanya tetap mempengaruhi
Kemot dan Kesut agar tetap berpihak dengan mereka.
Pertengkaran
antara Kecil-keburu dengan Kemot-Kesut pun terjadi gara-gara sekutu. Sambil
mencari jalan keluar untuk mencaari dukungan. Mereka tetap mengadu domba
keduanya.
Mencari
muka menjadi hobi sekutu, hari ini ketua sekutu menemui Raja hutan.
“Siang
Baginda Rajaku”, sapa ketua sekutu
“Ada
perlu apa?”, tanya raja
“Ini
masalah hutan yang semakin kotor baginda”, jawab ketua sekutu
Setelah
berbincang-bincang lama dengan raja hutan dan berusaha mempengaruhi raja agar
mau mengusir Kecil dan Keburu karena telah menjadi pengrusak hutan.
Sebelum
dikeluarkan peraturan dan surat pengusiran dari hutan, ada satu pertemuan di
mana semuanya bebas ngomong. Di situlah semuanya terbongkar kebusukan sekutu.
Kebetulan sekutu waktu itu ttidak ituk pertemuan, semuanya ngomong apa adanya
baik keluhan mereka selama ini.
Di
forum itu pula misteri selama ini terbongkar. Keempat kelompok besar hampir
tidak pernah berkomunikasi karena bahasa mereka beda dan tidak dimengerti satu
sama lain.
Kalian
mesti bingung, kok di forum bisa tahu. Tentunya bisa karena mereka pake bahasa
nasiaonal binatang bukan bahasa kelompok.
***
Keesokan
harinya semua penghuni hutan menyusun rencana untuk menjebak sekutu. Dengan
apa? , mereka berpura-pura mengadakan upacara terakhir untuk Kecil dan Keburu
yang akan diusir dari hutan. Padahal yang akan diusr adalah Sekutu tersebut.
“Kami
sangat kecewa dengan kalian, berani membohongo Raja kalian ini”, kata Raja
hutan
“Hidup Raja!!!”, sorak sekutu, “mereka memang
nggak tau malu”.
“Sekutu,
Kau memang baik padaku”, kata Raja, “mau nggak Kau melakukan hal yang raja
senangi”.
“Siap
Baginda”, jawab ketua sekutu, “apa Baginda”.
“Pergi
dari hutan ini!!!!!!!!!”, perintah Raja hutan.
Rasa
malu dan tertawaan dari semua penghuni
hutan, sekutu pergi dengan tidak terhormat.


0 komentar:
Posting Komentar