Kamis, 10 Januari 2013

GERILIYA SEKUTU


 
Oleh: Tien Afecto Galuh
Di hutan hiduplah beberapa kelompok hewan yang bermacam-macam jenisnya, dari yang kecil-besar, bodoh-cerdik, bahkan yang lembut sampai yang buas. Mereka memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Jadi setiap kelompok hewan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Ada empat kelompok besar di hutan tersebut, antara lain kelompok monyet, burung, semut dan kancil. Mereka hidup berdampingan dari dulu tidak ada masalah sebelumnya, hutan tersebut damai, aman, tentram dan saling menjaga serta menghargai.
Biasa hidup bergelantungan di atas pohon membuat monyet (kemon) pandai memanjat pohon dan kebanyakan dari mereka mempunyai keahlian dalam mencari makanan. Kelompok burung (keburu) punya modal suara merdu yang bisa dijadiin kelebihan dan penampilan juga menarik.
Semut (kesut) memang kecil tapi jangan pernah meragukan kerukunan mereka, coba lihat saja kalau bertemu mesti salaman (berjabat tangan) dan kerjasamanya sangat terjaga satu sama lain. Terakhir kelompok kancil atau kecil yang memiliki banyak akal buat menipu orang lain, mereka sangat cerdik, so jangan berani-berani ngerjain kalau tidak mau dikerjain.
Tak ada yang saling menghina satu sama lain, mereka menyadari kalau setiap makhluk hidup punya kelebihan dan kelemahan. Tapi ada yang aneh dari kehidupan mereka ini, tak ada yang bisa memecahkan misterinya. Hidup berdampingan selama ribuan tahun tapi tak pernah berkomunikasi, mereka hanya menghargai satu sama lain sebagai tetangga.
Suatu hari datanglah sekelompok hewan dari hutan sebrang, mereka adalah tak pernah disukai, karena merugikan orang lain, inginnya hidup enak tanpa kerja keras yaitu kelompok kutu. Niat ingin mencari ada apa di balik misteri kehidupan mereka tapi tak tahu apa yang akan dilakukan hewan kecil ini.
“Selamat siang rajaku” sapa ketua kutu
“Siapa kalian?” tanya raja, “Kalian bukan rakyatku.”
“Kami bukan rakyat raja sekarang, tapi kalau Raja berkenan kami akan menjadi rakyat baginda dengan senang hati” rayu ketua kutu
Awal cerita mereka pindah ke hutan ini karena mereka diusir dari hutan mereka karena telah membuat resah penghuni hutan. Alasan mereka saja agar tidak malu dan dapat diterima di hutan ini oleh raja hutan tempat tinggal keempat kelompok hewan yang menjadi misteri.
***
“Sepertinya kalian tulus”, tanggap raja, “mengapa tidak?.”
“Terima kasih Baginda raja”, ucap kutu-kutu
Setelah diterima baik oleh raja hutan mereka para pejabat tinggi kutu mengadakan rapat pleno untuk menentukan strategi agar bisa mengalahkan keempat kelompok besar di hutan ini.
Strategi pertama, kaum kutu memaik-baikin keempat kelompok hewan itu agar bisa masuk di dalamnya. Mereka sedikit demi sedikit mencari-cari kelemahan dari keempat kelompok itu. Seluk beluk setiap kelompok, mereka ketahui dengan cepat tanpa menimbulkan rasa curiga. Kelebihan dari setiap kelompok benar-benar dipelajari sampai mereka bisa menirukannya.
***
Akhirnya, kelompok kutu-kutu atau sekutu berhasil menarik simpati raja dan yang lain sehingga bisa menjadi kelompok besar, sejajar dengan empat kelompok besar.
“Senang sekali kami yang bukan siapa-siapa bisa menjadi penting di sini”, sambutan ketua kutu.
“hip hip . . .hore”, sorak sekutu
Setelah mereka mendapatkan penghargaan dari raja, sifat busuk mereka lama-kelamaan mulai muncul. Ilmu-ilmu yang didapat dari keempat kelompok besar tersebut dimanfaatkan mereka untuk menghancurkan empat kelompok besar di hutan.
Raja yang dulunya selalu mengandalkan empat kelompok hewan dengan kelebihannya masing-masing sekarang mulai beralih pada sekutu.
Keadaan ini pertama kali disadari Kecil, mulai saat itu mereka sangat membenci sekutu. Karena bagaimanapun Kecil tetap cerdas dan sulit ditandingi kecerdasanya, karena kecerdasan tumbuh dari dalam diri. Bisa dipelajari tapi sulit.
Keburu tidak lama kemudian juga sadar kalau sekutu telah meniru keunikan mereka, dan mencuri semua perhatian rakyat. Tapi beda dengan Kemon dan Kesut mereka tidak menyadari itu semua karena kelebihan mereka memang sulit ditiru sekutu.
Sekutu punya banyak mata-mata dan segera tahu kalau Kecil dan Keburu telah menyadari kebusukan sekutu. Tapi sekutu tak bisa apa-apa, mereka hanya tetap mempengaruhi Kemot dan Kesut agar tetap berpihak dengan mereka.
Pertengkaran antara Kecil-keburu dengan Kemot-Kesut pun terjadi gara-gara sekutu. Sambil mencari jalan keluar untuk mencaari dukungan. Mereka tetap mengadu domba keduanya.
Mencari muka menjadi hobi sekutu, hari ini ketua sekutu menemui Raja hutan.
“Siang Baginda Rajaku”, sapa ketua sekutu
“Ada perlu apa?”, tanya raja
“Ini masalah hutan yang semakin kotor baginda”, jawab ketua sekutu
Setelah berbincang-bincang lama dengan raja hutan dan berusaha mempengaruhi raja agar mau mengusir Kecil dan Keburu karena telah menjadi pengrusak hutan.
Sebelum dikeluarkan peraturan dan surat pengusiran dari hutan, ada satu pertemuan di mana semuanya bebas ngomong. Di situlah semuanya terbongkar kebusukan sekutu. Kebetulan sekutu waktu itu ttidak ituk pertemuan, semuanya ngomong apa adanya baik keluhan mereka selama ini.  
Di forum itu pula misteri selama ini terbongkar. Keempat kelompok besar hampir tidak pernah berkomunikasi karena bahasa mereka beda dan tidak dimengerti satu sama lain.
Kalian mesti bingung, kok di forum bisa tahu. Tentunya bisa karena mereka pake bahasa nasiaonal binatang bukan bahasa kelompok.
***
Keesokan harinya semua penghuni hutan menyusun rencana untuk menjebak sekutu. Dengan apa? , mereka berpura-pura mengadakan upacara terakhir untuk Kecil dan Keburu yang akan diusir dari hutan. Padahal yang akan diusr adalah Sekutu tersebut.
“Kami sangat kecewa dengan kalian, berani membohongo Raja kalian ini”, kata Raja hutan
 “Hidup Raja!!!”, sorak sekutu, “mereka memang nggak tau malu”.
“Sekutu, Kau memang baik padaku”, kata Raja, “mau nggak Kau melakukan hal yang raja senangi”.
“Siap Baginda”, jawab ketua sekutu, “apa Baginda”.
“Pergi dari hutan ini!!!!!!!!!”, perintah Raja hutan.
Rasa malu dan  tertawaan dari semua penghuni hutan, sekutu pergi dengan tidak terhormat.

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

selamat datang

Ruang Komunikasi

Mengenai Saya

Foto saya
Si bungsu yang sedang belajar hidup mandiri dan tak bergantung pada siapa pun.
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 10 Januari 2013

GERILIYA SEKUTU


 
Oleh: Tien Afecto Galuh
Di hutan hiduplah beberapa kelompok hewan yang bermacam-macam jenisnya, dari yang kecil-besar, bodoh-cerdik, bahkan yang lembut sampai yang buas. Mereka memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Jadi setiap kelompok hewan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Ada empat kelompok besar di hutan tersebut, antara lain kelompok monyet, burung, semut dan kancil. Mereka hidup berdampingan dari dulu tidak ada masalah sebelumnya, hutan tersebut damai, aman, tentram dan saling menjaga serta menghargai.
Biasa hidup bergelantungan di atas pohon membuat monyet (kemon) pandai memanjat pohon dan kebanyakan dari mereka mempunyai keahlian dalam mencari makanan. Kelompok burung (keburu) punya modal suara merdu yang bisa dijadiin kelebihan dan penampilan juga menarik.
Semut (kesut) memang kecil tapi jangan pernah meragukan kerukunan mereka, coba lihat saja kalau bertemu mesti salaman (berjabat tangan) dan kerjasamanya sangat terjaga satu sama lain. Terakhir kelompok kancil atau kecil yang memiliki banyak akal buat menipu orang lain, mereka sangat cerdik, so jangan berani-berani ngerjain kalau tidak mau dikerjain.
Tak ada yang saling menghina satu sama lain, mereka menyadari kalau setiap makhluk hidup punya kelebihan dan kelemahan. Tapi ada yang aneh dari kehidupan mereka ini, tak ada yang bisa memecahkan misterinya. Hidup berdampingan selama ribuan tahun tapi tak pernah berkomunikasi, mereka hanya menghargai satu sama lain sebagai tetangga.
Suatu hari datanglah sekelompok hewan dari hutan sebrang, mereka adalah tak pernah disukai, karena merugikan orang lain, inginnya hidup enak tanpa kerja keras yaitu kelompok kutu. Niat ingin mencari ada apa di balik misteri kehidupan mereka tapi tak tahu apa yang akan dilakukan hewan kecil ini.
“Selamat siang rajaku” sapa ketua kutu
“Siapa kalian?” tanya raja, “Kalian bukan rakyatku.”
“Kami bukan rakyat raja sekarang, tapi kalau Raja berkenan kami akan menjadi rakyat baginda dengan senang hati” rayu ketua kutu
Awal cerita mereka pindah ke hutan ini karena mereka diusir dari hutan mereka karena telah membuat resah penghuni hutan. Alasan mereka saja agar tidak malu dan dapat diterima di hutan ini oleh raja hutan tempat tinggal keempat kelompok hewan yang menjadi misteri.
***
“Sepertinya kalian tulus”, tanggap raja, “mengapa tidak?.”
“Terima kasih Baginda raja”, ucap kutu-kutu
Setelah diterima baik oleh raja hutan mereka para pejabat tinggi kutu mengadakan rapat pleno untuk menentukan strategi agar bisa mengalahkan keempat kelompok besar di hutan ini.
Strategi pertama, kaum kutu memaik-baikin keempat kelompok hewan itu agar bisa masuk di dalamnya. Mereka sedikit demi sedikit mencari-cari kelemahan dari keempat kelompok itu. Seluk beluk setiap kelompok, mereka ketahui dengan cepat tanpa menimbulkan rasa curiga. Kelebihan dari setiap kelompok benar-benar dipelajari sampai mereka bisa menirukannya.
***
Akhirnya, kelompok kutu-kutu atau sekutu berhasil menarik simpati raja dan yang lain sehingga bisa menjadi kelompok besar, sejajar dengan empat kelompok besar.
“Senang sekali kami yang bukan siapa-siapa bisa menjadi penting di sini”, sambutan ketua kutu.
“hip hip . . .hore”, sorak sekutu
Setelah mereka mendapatkan penghargaan dari raja, sifat busuk mereka lama-kelamaan mulai muncul. Ilmu-ilmu yang didapat dari keempat kelompok besar tersebut dimanfaatkan mereka untuk menghancurkan empat kelompok besar di hutan.
Raja yang dulunya selalu mengandalkan empat kelompok hewan dengan kelebihannya masing-masing sekarang mulai beralih pada sekutu.
Keadaan ini pertama kali disadari Kecil, mulai saat itu mereka sangat membenci sekutu. Karena bagaimanapun Kecil tetap cerdas dan sulit ditandingi kecerdasanya, karena kecerdasan tumbuh dari dalam diri. Bisa dipelajari tapi sulit.
Keburu tidak lama kemudian juga sadar kalau sekutu telah meniru keunikan mereka, dan mencuri semua perhatian rakyat. Tapi beda dengan Kemon dan Kesut mereka tidak menyadari itu semua karena kelebihan mereka memang sulit ditiru sekutu.
Sekutu punya banyak mata-mata dan segera tahu kalau Kecil dan Keburu telah menyadari kebusukan sekutu. Tapi sekutu tak bisa apa-apa, mereka hanya tetap mempengaruhi Kemot dan Kesut agar tetap berpihak dengan mereka.
Pertengkaran antara Kecil-keburu dengan Kemot-Kesut pun terjadi gara-gara sekutu. Sambil mencari jalan keluar untuk mencaari dukungan. Mereka tetap mengadu domba keduanya.
Mencari muka menjadi hobi sekutu, hari ini ketua sekutu menemui Raja hutan.
“Siang Baginda Rajaku”, sapa ketua sekutu
“Ada perlu apa?”, tanya raja
“Ini masalah hutan yang semakin kotor baginda”, jawab ketua sekutu
Setelah berbincang-bincang lama dengan raja hutan dan berusaha mempengaruhi raja agar mau mengusir Kecil dan Keburu karena telah menjadi pengrusak hutan.
Sebelum dikeluarkan peraturan dan surat pengusiran dari hutan, ada satu pertemuan di mana semuanya bebas ngomong. Di situlah semuanya terbongkar kebusukan sekutu. Kebetulan sekutu waktu itu ttidak ituk pertemuan, semuanya ngomong apa adanya baik keluhan mereka selama ini.  
Di forum itu pula misteri selama ini terbongkar. Keempat kelompok besar hampir tidak pernah berkomunikasi karena bahasa mereka beda dan tidak dimengerti satu sama lain.
Kalian mesti bingung, kok di forum bisa tahu. Tentunya bisa karena mereka pake bahasa nasiaonal binatang bukan bahasa kelompok.
***
Keesokan harinya semua penghuni hutan menyusun rencana untuk menjebak sekutu. Dengan apa? , mereka berpura-pura mengadakan upacara terakhir untuk Kecil dan Keburu yang akan diusir dari hutan. Padahal yang akan diusr adalah Sekutu tersebut.
“Kami sangat kecewa dengan kalian, berani membohongo Raja kalian ini”, kata Raja hutan
 “Hidup Raja!!!”, sorak sekutu, “mereka memang nggak tau malu”.
“Sekutu, Kau memang baik padaku”, kata Raja, “mau nggak Kau melakukan hal yang raja senangi”.
“Siap Baginda”, jawab ketua sekutu, “apa Baginda”.
“Pergi dari hutan ini!!!!!!!!!”, perintah Raja hutan.
Rasa malu dan  tertawaan dari semua penghuni hutan, sekutu pergi dengan tidak terhormat.

 
Template Indonesia | Dongengku
Aku cinta Indonesia